Page 21 - KFR Final Tahunan 2021
P. 21
diperhitungkan tantangan-tantangan yang ada, untuk sebagai bahan pengambilan
kebijakan atau keputusan.
1.3.1. Tantangan Ekonomi Daerah
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2020, sektor ekonomi yang
mendominasi di Sumut adalah pertanian, perikanan, dan kehutanan dengan 27,34
persen dari total produk domestik regional bruto (PDRB). Permasalahan ekonomi di
Sumatera Utara diantaranya disebabkan tingginya ketimpangan pendapatan
antarwilayah yang disebabkan keragaman potensi sumber daya alam, letak geografis,
kualitas sumber daya manusia, ikatan etnis atau politik. Kesenjangan pembangunan ini
terlihat antara wilayah Pantai Timur dan Pantai barat, dimana wilayah-wilayah Pantai
Timur (Kota Medan dan sekitarnya) lebih maju dibandingkan dengan wilayah di Pantai
Barat (Kota Padang Sidempuan, Kota Sibolga dan Kabupaten/Kota di sekitarnya).
Beberapa Proyek Prioritas Nasional yang dilaksanakan di Sumatera Utara
diharapkan dapat memperkecil disparitas ekonomi antarwilayah. Proyek Prioritas
tersebut diantaranya berupa pembangunan jalan Kuala Tanjung-Tebing Tinggi-Parapat
di Sumatera Utara (Sumut) Sepanjang 143,25 kilometer (km) yang sedang dibangun.
Jalan tol Kuala Tanjung-Tebing Tinggi-Parapat terdiri dari 6 seksi, dimana seksi 1 Tebing Tantangan
Ekonomi Daerah:
Tinggi-Inderapura 20,4 km progresnya mencapai 85,38%, seksi 2 Indrapura-Kuala Tingginya
ketimpangan
Tanjung 18,05 km progres 65,94%, seksi 3 Tebing Tinggi-Serbelawan 30 km progres antarwilayah
62,68%, dan seksi 4 Serbelawan-Pematang Siantar 28 km progresnya 48,99%. Empat
ruas tersebut ditargetkan selesai konstruksi pada 2022. Selain itu pembangunan
Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei di Kabupaten Simalungun, dan pembangunan
pelabuhan Kuala Tanjung diharapkan dapat membangkitkan pusat-pusat ekonomi baru
di Sumatera Utara.
Pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara masih banyak bertumpu pada sektor-
sektor yang padat modal, sehingga menyebabkan penyerapan tenaga kerja menjadi
berkurang, dampaknya adalah pengangguran meningkat. Terpusatnya perekonomian
dan industri di wilayah pantai timur mendorong banyaknya urbanisasi masyarakat, yang
jika tidak diimbangi dengan adanya pendidikan dan keterampilan yang memadai turut
memperparah tingkat pengangguran terbuka di Sumatera Utara.
Data tahun 2020 menyebutkan bahwa Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)
Sumatera Utara Tahun 2020 sebesar 68,67, persen turun dibandingkan TPAK tahun
2019 sebesar 70,19 persen. Tingkat pengangguran terbuka tahun 2020 sebesar 6,91
persen naik dibandingkan Tahun 2019 sebesar 5,41 persen. Peningkatan ini diantaranya
disebabkan banyaknya industri yang mengurangi pekerja sebagai akibat terdampak
4

