Page 53 - KFR Triwulan II 2024
P. 53

BAB I  |  Analisis Ekonomi   BAB II  |  Analisis Fiskal   BAB III  |  Pengembangan   BAB IV  |  Analisis Tematik  BAB V  |  Kesimpulan dan
 Prolog          Ekonomi Daerah                                                         Rekomendasi
 Regional  Regional

 II.1.2.1.2 Belanja Pemerintah Pusat Per Kementerian/Lembaga    Dari  sisi  persentase  realisasi,  Badan  Pengawasan  Pemilihan  Umum  memiliki  persentase
                tertinggi dengan realisasi 75,41 persen sampai dengan akhir triwulan II tahun 2024. Realisasi
 Jika melihat 15 Kementerian/Lembaga terbesar yang menerima alokasi belanja pemerintah

 pusat,  Komisi  Pemilihan  Umum  menjadi  lembaga  yang  mengalami  pertumbuhan  alokasi   belanja tertinggi diperuntukkan untuk belanja honor output kegiatan yang mencapai Rp107,22
 belanja terbesar, mencapai 86,08 persen. Pada tahun 2024, KPU mendapatkan alokasi BPP   miliar diikuti belanja barang perjalanan dinas dalam kota yang mencapai Rp70,81 miliar.
 sebesar  Rp2.250,77  miliar,  sedangkan  di  tahun  2023  KPU  menerima  alokasi  sebesar   Dalam  proses  pelaksanaan  anggaran,  terdapat  beberapa  permasalahan  pada

 Rp1.209,59 miliar. Peningkatan ini dalam rangka kegiatan pelaksanaan pemilihan umum pada   kementerian/lembaga yaitu permasalahan penganggaran, pengadaan barang dan jasa, dan
 tahun 2024, berbagai pelaksanaan persiapan, logistik proses pemilihan, masa perhitungan   eksekusi kegiatan. Permasalahan pada penganggaran yaitu utamanya pada proses automatic
 hingga proses pelantikan.    adjustment  dan  keselarasan  perencanaan  dan  pelaksanaan  anggaran.  Informasi  revisi

                tentang Automatic adjustment masih kurang diketahui satuan kerja, selain itu juga proses
 Tabel 2.4 Pagu dan Realisasi Belanja 15 K/L Terbesar
 (dalam miliar rupiah)   revisi   Automatic   adjustment   yang   terlalu   lama   akibat   konsolidasi   internal
 2023   2024
 Kementerian/Lembaga   kementerian/lembaga  dapat  menghambat  proses  pelaksanaan  anggaran.  Rencana
 Pagu   Realisasi   %   Pagu   Realisasi   %
                Penarikan Dana pada Halaman III DIPA yang dibagi rata perbulan tidak menggambarkan
 Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat   5.097,00   1.147,14   22,51%   4.344,99   1.392,88   32,06%
 Kementerian Pertahanan   2.992,52   1.506,85   50,35%   3.142,69   1.780,91   56,67%   kesesuaian perencanaan dengan pelaksanaan anggaran, mengakibatkan kemungkinannya
 Kementerian Agama   2.909,51   1.235,48   42,46%   3.001,87   1.534,87   51,13%   tumpang tindih kewenangan DK/TP dengan TKD serta belum adanya tagging tematik dan
 Kepolisian Negara Republik Indonesia   2.540,43   1.266,48   49,85%   2.665,60   1.366,62   51,27%
                Prioritas Nasional.
 Komisi Pemilihan Umum   1.209,59   506,77   41,90%   2.250,77   1.202,68   53,43%
 Kementerian Perhubungan   2.262,24   687,64   30,40%   2.153,39   440,50   20,46%   Permasalahan pada pengadaan barang dan jasa utamanya yaitu permasalahan pengadaan
 Kementerian Pendidikan Nasional   1.273,70   501,87   39,40%   1.657,28   603,93   36,44%   barang dan jasa yang lambat, keterbatasan ketersediaan barang pada e-katalog, dan kendala
 Kementerian Kesehatan   947,79   291,68   30,77%   971,28   381,89   39,32%
                terkait kebijakan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN). Masih terdapat gagal tender pada
 Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Ri   849,99   315,37   37,10%   932,44   348,28   37,35%
 Badan Pengawasan Pemilihan Umum   477,39   171,67   35,96%   492,51   371,41   75,41%   beberapa  satuan  kerja,  serta  regulasi  lelang  terpusat  pada  beberapa  kementerian  juga
 Kementerian Pertanian   405,68   99,38   24,50%   429,73   79,67   18,54%   memperlambat proses pengadaan barang dan jasa. Keterbatasan penyedia yang terdaftar di
 Kejaksaan Republik Indonesia   401,06   193,10   48,15%   422,15   223,81   53,02%   dalam e-katalog tersedia masih sedikit, harga relatif lebih mahal daripada marketplace serta
 Mahkamah Agung   388,46   216,56   55,75%   337,72   172,39   51,05%
                spesifikasi barang pada e-katalog tidak lengkap, variasi barang yang tersedia masih sedikit
 Kementerian Keuangan   272,08   110,51   40,62%   309,48   130,80   42,26%
                dan  terbatas,  adanya  keraguan  dan  kekhawatiran  satker  atas  barang  yang  diterima  tidak
 Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan   359,44   123,99   34,50%   306,96   119,10   38,80%
 Sumber: Monev PA, 2024 (diolah)      sesuai  dengan  yang  dibutuhkan.  Kesulitan  memperoleh  barang  sesuai  kebijakan  TKDN
                terutama untuk barang-barang berteknologi canggih, barang dengan TKDN belum memenuhi
 Alokasi tertinggi pada belanja pemerintah pusat terdapat pada Kementerian Pekerjaan Umum
                kualifikasi dan spesifikasi yang dibutuhkan.
 dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang mencapai Rp4.344,99 miliar atau 17,25 persen dari

 total  alokasi  belanja  pemerintah  pusat.  Besarnya  pagu  alokasi  pada  Kementerian  PUPR   Permasalahan  pada  eksekusi  kegiatan  yaitu  timelag  yang  cukup  lama  dari  perencanaan
 mengindikasikan fokusnya belanja di Sumatera Utara pada sektor infrastruktur. Pagu output   anggaran sampai dengan pelaksanaan anggaran menyebabkan terjadi perubahan harga dan
 terbesar di Kementerian PUPR yaitu Belanja Penambahan Nilai Jalan dan Jembatan yang   sistem pekerjaan pada belanja barang dan belanja pegawai. Proses revisi penambahan pagu

 mencapai Rp992,64 miliar atau 22,85 persen dari total pagu, diikuti Belanja Gedung Dan   dan  buka  blokir  lama  selesai  sehingga  mengakibatkan  pagu  bertambah  namun  tidak  ada
 Bangunan  Untuk  Diserahkan  Kepada  Masyarakat/Pemda  yang  mencapai  Rp936,63  miliar   penyerapan pada belanja modal. Data rekening penerima bantuan tidak valid/rekening tidak

 atau 21,56 persen dari total pagu. Kebutuhan akan pembangunan infrastruktur khususnya   aktif,  proses  penyelesaian  kelengkapan  administrasi  terhadap  calon  penerima  bantuan
 jalan  nasional  diproyeksikan  dapat  memberikan  kontribusi  terhadap  pertumbuhan   membutuhkan waktu yang cukup lama pada belanja bantuan sosial.
 perekonomian  di  Sumut  sehingga  dapat  memperlancar  sarana  prasarana  kegitan

 perekonomian masyarakat maupun dunia usaha.


 52  KANWIL DJPB PROVINSI SUMATERA UTARA                                       KAJIAN FISKAL REGIONAL    53

                                                                                    Triwulan II Tahun 2024
   48   49   50   51   52   53   54   55   56   57   58